Shalom , kembali kita bersua di minggu ke XV sesudah Trinitatis saa ini. Yang bagi gereja kita diberikan topik : “Tuhan melakukan perbuatan besar bagi umatNya/ Debata patupa halongangan tu bangsoNa: Kisah perjalanan bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir, yang menghadirkan kepada kita saat-saat yang mungkin penuh ketakutan dan kebingungan yang dialami oleh mereka/ ini adalah juga gambaran dari perjalanan kehidupan yang mungkin kita hadapi.
Ketika Allah sendiri membuat hal yang tidak sesuai dengan yang kita mau bahkan sangat berbeda dengan asa dan logika kita, marahlah Dia ? Baru saja mereka keluar dari perbudakan Mesir, aroma kenikmatan kebebasan baru saja dihirup., tetapi Allah kembali berfirman melalui Musa agar umat itu berputar kembali dan berkemah di daerah Pi-Hairo antara Migol dan laut, tepatnya depan Bal-Zefon. Cara Allah sendiri untuk nenyelamatkan mereka dari kejaran Firaun dan pasukannya yang menyesal telah membebaskan umat Israel . Kini mereka terjebak , di depan ada bentangan laut merah dan dibelakang mereka ada pasukan Firaun dalam angkara murka penyesakannya. Dalam keadaan seperti itulah umat itu menjerit bahkan menyesali tindakan Musa yang membebaskan mereka dari Mesir . Dalam kecekaman itulah Musa menyakinkan mereka ,”Ada Allah yang menjadi solusi = Tuhan akan berperang untuk kamu, kamu akan diam (14; 14” . Penyertaan Allah yang tidak pernah alfa, itulah yang nyata. Umat itu melanjutkan perjalanannya , lihat , Malailat Tuhan yang senantiasa ada menyertai perjalanan mereka tiang awan pada waktu siang dan tiang api pada waktu malam (13:21). Malaikat itu kini pergerak yang tadinya berjalan di depan mereka,kini bergerak ke ada di belakang mereka.
Demikianlah tiang itu berdiri di antara tentara orang Mesir dan tentara orang Israel; dan oleh karena awan itu menimbulkan kegelapan, maka malam itu lewat, sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain, semalam-malaman itu.(14:20) Tiang awan itu bukanlah sekedar awan biasa , tetapi merupakan symbol nyata kehadiran Allah di tengah-tengah umatNya. Momen ini dapat terjadi dalam kehidupan kini anak-anak pilihanNya yang senantiasa menyatu dan bersandar pada kasih dan keagungan pilihanNya , Tanpa kita sadari, Bersama dengan Dia :”Batu sandungan sakalipun dapat manjadi batu loncatan. Amin
— Pdt. BengSil, STh